Jumat, 06 Juni 2014

Mekanisme Penyembuhan Luka

  Proses Penyembuhan Luka
Hemostasis adalah penghentian pendarahan dari suatu pembuluh darah yang rusak, berarti juga pencegahan kehilangan darah. Untuk terjadinya pendarahan dari suatu pembuluh, dinding pembluh harus mengalami kerusakan dan tekanan di bagian dalam pembuluh harus lebih besar daripada di luarnya.
Bila pembuluh darah terputus atau pecah, proses hemostasis mengalami beberapa langkah, yaitu :
1.      Spasme Vaskular
Spasme vaskular mengurangi aliran darah melalui pembuluh yang cedera
Pembuluh darah yang terpotong atau robek akan segera berkonstriksi. Hal ini disebabkan oleh refleks saraf dan spasme miogenik lokal. Refleks saraf diduga diawali oleh impuls yang berasal dari pembuluh yang mengalami trauma atau jaringan yang berdekatan. Konstriksi ini memperlambat darah mengalir dan memperkecil kehilangan darah. Permukaan – permukaan endotel yang saling berhadapan juga saling menekan sehingga permukaan tersebut saling melekat satu sama lain dan semakin menambal pembuluh darah yang rusak. Tindakan fisik ini tidak cukup untuk menghambat pengeluaran darah secara sempurna, namun cukup untuk meminimalkan aliran darah yang melalui pembuluh yang rusak. Spasme vaskular lokal ini berlangsung selama 20 – 30 menit, selama waktu ini dapat berlangsung proses sumbatan trombosit dan pembekuan darah.
2.      Pembentukan Sumbat Trombosit
Trombosit menggumpal untuk membentuk sumbat di bagian pembuluh yang terpotong atau robek.
Trombosit dalam keadaan normal tidak melekat pada permukaan endotel pembuluh darah yang licin. Tetapi bila trombosit bersentuhan dengan permukaan vaskular yang rusak, seperti serabut kolagen dalam dinding vaskular, maka trombosit akan segera mengubah sifatnya: mulai membengkak, membentuk formasi tak teratur dengan sejumlah penonjolan, menjadi lengket sehingga melekat pada serabut kolagen, dan mensekresikan ADP untuk peningkatan jumlah trombosit. Pengelompokan ini membentuk sumbat trombosit. Jika celah yang ada pada pembuluh darah kecil, maka sumbat trombosit sendiri dapat  menghentikan pendarahan, tetapi jika terdapat lubang yang besar maka diperlukan bekuan darah untuk menghentikan pendarahan.

3.      Koagulasi Darah ( pembentukan bekuan darah )
Mekanisme ketiga untuk hemostsis adalah pembentukan pembekuan darah. Koagulasi atau pembekuan darah adalah transformasi darah dari cairan menjadi gel padat. Pembentukan bekuan di atas sumbat trombosit memperkuat dan menopang sumbat, meningkatkan tambalan yang menutupi kerusakan pembuluh. Bekuan mulai timbul dalam 15 – 20 detik bila trauma dinding vaskular berat dan dalam 1 – 2 menit bila traumanya ringan. Zat aktivator yang berasal dari dinding vaskular yang mengalami trauma serta dari trombosit dan protein – protein darah yang melekat pada kolagen dinding vaskular yang mengalami trauma mengawali proses pembekuan. Dalam 3 – 6 menit setelah robeknya pembuluh, seluruh ujung pembuluh yang terpotong atau yang patah diisi dengan bekuan. Setelah 30 menit sampai satu jam, bekuan mengalami retraksi, yang menutup pembuluh lebih lanjut.
4.      Pertumbuhan jaringan fibrosa
Bila telah terbentuk bekuan darah, maka akan diikuti oleh dua keadaan, yaitu bekuan terinvasi oleh fibroblast yang selanjutnya akan membentuk jaringan ikat di seluruh bekuan, atau bekuan dapat melarut. Namun, yang umumnya terjadi pada bekuan yang terbentuk adalah invasi pada fibroblast, dimulai dalam beberapa jam setelah bekuan terbentuk, dan diteruskan menjadi jaringan fibrosa yang terjadi kira – kira dalam 7 – 10 hari. Namun bila terjadi massa bekuan yang besar, seperti darah yang menerobos ke dalam jaringan, zat – zat khusus dalam bekuan menjadi aktif dan menjadi berfungsi sebagai enzim untuk mencairkan bekuan.

Mekanisme pembekuan darah secara umum terjadi dalam tiga tahap penting :
§  Suatu zat yang dinamakan aktivator protombin terbentuk akibat robeknya pembuluh atau rusaknya darah itu sendiri
§  Aktivator protombin mengaktifkan perubahan protombin menjadi trombin

§  Trombin bekerja sebagai enzim yang mengubah fibrinogen menjadi benang – benang fibrin yang menyaring sel – sel darah merah dan plasma untuk mementuk bekuan